Technical Analysis & Fundamental Analysis di Transaksi Forex/Saham

An investment in knowledge always pays the best interest (Benjamin Franklin)”

Technical analysis merupakan suatu metode pengevaluasian forex, saham, komoditas, ataupun sekuritas lainnya dengan cara menganalisis statistik yang dihasilkan oleh aktivitas pasar di masa lampau guna memprediksikan pergerakan harga di masa mendatang.

Para analisis yang melakukan riset dengan menggunakan data-data teknikal itu di sebut sebagai technical analyst, atau juga sering disebut dengan technicalist, technician, atau chartist.

Para technicalist ini tidak menggunakan data-data ekonomi untuk mengukur nilai sebenarnya (intrinsic value) dari suatu saham atau forex seperti yang di lakukan oleh fundamentalist, tetapi menggunakan grafik (charts) yang merekam pergerakan harga dan jumlah transaksi (volume) untuk mengidentifikasi suatu pola pergerakan harga yang terjadi di pasar.

Perbedaan Mendasar Technical Analysis dan Fundamental Analysis

Supaya lebih mudah dimengerti, perbedaan fundamentalist dengan technicalist dapat diibaratkan seperti orang yang sedang berbelanja di mall. Para fundamentalist pergi ke setiap toko yang ada di dalam mall, mempelajari nilai barangnya (intrinsic value), baru kemudian mengambil keputusan untuk membeli atau menjual.

Pengenalan Technical Analysis dan Fundamental Analysis

Sedangkan seorang technicalist duduk dan memperhatikan orang-orang yang keluar masuk serta berbelania di toko-toko tersebut, baru kemudian mengambil keputusan berdasarkan hal itu tanpa mengukur nilai intrinsiknva sendiri.

Tiga Dasar Pemikiran Utama Technical Analysis

Ada tiga pemikiran yang menjadi dasar technical analysis, yaitu:

  1. Pergerakan harga vang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain (market action discounts everything).
  2. Terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga (prices move in trends).
  3. Sejarah akan terulang (history repeats itself)

Pernyataan pada poin nomor satu, Pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain (market action discounts everything).” mungkin merupakan poin terpenting dan menjadi dasar utama pemikiran dalam technical analysis. Bila poin inn tidak dipahami secara mendalam, maka penjelasan lain dalam studi technical analysis akan menjadi lebih sulit dimengerti ataupun diterima.

Para technicalist meyakini bahwa segala sesuatu yang bisa memengaruhi harga saham dan nilai tukar uang-baik dari segi fundamental, politik, maupun faktor-faktor lainnya—secara psikologi sebenarnya telah tercermin pada pergerakan harga yang terjadi di pasar. Hal ini dikarenakan Hukum Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand) yang membentuknya.

Dari dasar hukum ekonomi in para technicalist menyimpulkan bahwa jika harga naik, apapun alasan di balik kenaikan harga tersebut, demand pasti lebih besar daripada supply dan dari sisi fundamental mestinya bullish.

Sebaliknya, jika harga turun, supply pasti lebih besar daripada demand dan dari sisi fundamental mestinya bearish.

Jadi grafik Charts itu sendiri tidaklah menyebabkan harga naik ataupun turun, namun merupakan cerminan psikologi dari para pelaku pasar itu sendiri.

Charts dapat diibaratkan seperti sebuah “foto”. Dari gambar yang terpotret di sebuah foto, kita dapat memperkirakan apakah orang tersebut sedang sehat atau bahagia atau sedih, dan lain sebagainya.

Mengerti psikokogi yang menjadi latar belakang pergerakan harga ini akan dibahas secara detail dalam artikel kami berikutnya.

Pengertian Bullish dan Bearish

Pengertian Bullish dan Bearish

Bullish dan bearish merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk melambangkan situasi pasar. Nantinya dalam penulisan artikel selanjutnya kita juga akan sering menggunakan istilah-istilah tersebut.

Bullish berasal dari kata: bull yang artinya banteng. Seperti ciri banteng yang suka mengayunkan tanduknya ke atas, melambangkan optimisme para pelaku dalam kondisi pasar yang harganya sedang naik.

Bearish berasal dan kata: bear yang artinya beruang. Seperti ciri beruang yang suka mengayunkan cakarnya ke bawah, melambangkan pesimisme para pelaku dalam kondisi pasar yang harganya sedang turun.

Di Bowling Park, dekat Wall Street-kota New York, terdapat sebuah patung bull raksasa yang terbuat dan perunggu seberat 3,2 ton. Patung ini dipersembahkan oleh seorang seniman bernama Arturo Di Modica.

Dia membuat patung tersebut sebagai hadiah kepada masyarakat New York pada perayaan Natal tahun 1989, dengan harapan pasar segera pulih dari crash dahsyat yang terjadi dua tahun sebelumnya.

Patung tersebut kemudian dikenal sebagai The Bull of Wall Street atau  juga seeing disebut dengan “Charging Bull“, Pada tahun 2004 Arturo Di Modica mengumumkan secara resmi keinginannya untuk menjual patung tersebut namun syaratnya The Bull of Wall Street atau Charging Bull tidak boleh dipindahkan dari tempatnya sekarang.

Mungkin ada yang berminat?

Baca juga : Cara Belajar Buka Akun Forex Terkini, Lengkap, Akurat dan Terpercaya

Analisa Fundamental Sering Terlambat Mengidentifikasi Pergerakan Harga

Pengenalan Fundamental Analysis

Sering sekali pada tahap awal suatu pola pergerakan harga atau titik balik (turningpoin) yang krusial, tidak ada yang tahu penyebabnya.

Biasanya setelah kejadian, baru kemudian kantor-kantor berita sibuk mencari keterangan untuk hal itu.

Menurut pengalaman dan pengamatan terkadang karena tidak tahu atau belum diketahui penyebabnya, maka publikasi yang ditampilkan terkesan hanya sekedar mencari “kambing hitam” atau alasan saja.

Sehagai contoh, suatu hari pasar modal Amerika terkoreksi cukup tajam.

Berita mengatakan penyebabnya adalah karena harga minyak yang melambung. Padahal jika diamati, harga minyak sendiri sudah berada di kisaran harga itu sejak beberapa minggu terakhir.

Pertanyaannva adalah “Kenapa hal itu Baru sekarang dijadikan alasan”.

Pengalaman lainnya, pada awal November 2007 pasar modal Amerika kembali mengalami sell off besar-hesaran, seluruh indeks utama mengalami tekanan yang luar biasa indeks Dow mengalami penurunan lebih dari 4% dalam tiga hari saja.

Indeks Nasdaq bahkan lebih parah—turun 8,3%!

Kejadian tersebut oleh kantor berita finansial dikaitkan dengan komentar seorang CEO dari suatu perusahaan teknologi yang menyatakan pesimis terhadap peningkatan omzet dan laba perusahaannya di masa mendatang.

Hal itu dikatakan sebagai akibat dari kondisi ekonomi yang dianggpnya akan melemah. Harga saham perusahaan itu sendiri jatuh lebih dari 10% saat itu.

Pertanyaannya: “Apakah menurut Anda masuk akal jika hanya berdasarkan komentar seorang CEO satu perusahaan saja, bisa menggoncang pasar secara keseluruhan dan menyebabkan kejatuhan yang sedemikian dahsyat?”.

Para technicalist mengetahui bahwa ada alasan-alasan atau penyebab yang berada di balik suatu pergerakan harga, hanya saja mereka merasa tidak perlu tahu “alasan tersebut” ataupun penyebabnya.

Para technicalist berpendapat, lebih praktis dan akurat membiarkan market itu sendiri yang memberitabukan ke mana arah kecenderungan harga (trend) akan berlangsung, dan hanya itu yang mereka perlu tahu.

“The market always knows the news before the newspaper do”

Pernyataan pada poin nomor dua, bahwa “Terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga (Prices move in trend), merupakan adaptasi dari Hukum Newton I tentang Pergerakan (Newtons First Law of Motion).

Hukum tersebut dipaparkan ilmuwan besar Sir Isaac Newton pada makalahnya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica menjelang akhir abad ke-16, yang secara garis besar menyimpulkan bahwa “Sebuah pola pergerakan memiliki kecenderungan berlanjut daripada tidak”.

Dengan kata lain, sebuah pola pergerakan akan terus berlanjut sampai terdapat tanda-tanda akan berhenti atau berbalik arah. Hal inilah yang menjadi prinsip dasar metode trend follower traders yang “menunggangi” sebuah pola kecenderungan atau trend untuk menghasilkan dan memaksimalkan keuntungan.

Jadi, kemampuan untuk mengidentifikasi suatu trend merupakan salah satu faktor kunci dalam technical analisis yang nantinya akan kita bahas lebih mendalam pada artikel-artikel selanjutnya.

Dalam studi technical analysis juga akan sering ditemukan suatu pola charts (chartpattern) yang sering terjadi atau berulang dari waktu ke waktu.

Karenanya pada pernyataan poin nomor tiga disebut “Sejarah akan terulang “History repeats itself”. Hal ini merupakan akibat serta refleksi dari psikologis dan sifat dasar manusia yang tetap sama sejak dulu.

Singkatnya, technical analysic memprediksi pergerakan arah dengan menganalisis aksi pasar, sedangkan fundamental analysis fokus dengan data-data keuangan untuk mencari nilai yang sesungguhnya atau intrinsic value dari suatu saham atau mata uang.

Baca juga artikel terkait lainnya yaitu

Pranala luar:

https://www.dailyfx.com/technical-analysis

Tinggalkan Balasan